Kuala Pembuang ??? dimana itu, tak banyak yang tau letak kota ini. Kota yang sunyi untuk kota yang didaulat menjadi ibukota kabupaten. Begitulah yang ada dipikiranku ketika aku harus menerima SK penugasan sebagai seorang pegawai negeri sipil. 4 tahun yang lalu aku diberikan amanah untuk melaksanakan tugas ke kalimantan tengah tepatnya dipalangkaraya, 2 tahun kemudian aku dipindah tugaskan ke kota sampit, kota yang konon terdapat perang antar etnis dayak dan madura. Hanya kurang dari 1 tahun aku ditempat ini, rupanya perjalanan karir ku sebagai PNS mengharuskan aku untuk berpindah lagi di kota Kuala Pembuang. Sungguh sangat berat kaki ku untuk melangkah pindah ke kota itu, bukan karena tak beralasan, jarak yang bertambah jauh dari tempat dimana istriku tinggal menjadi alasan tersendiri.Apalagi rupanya angkutan travel( taxi orang kalimantan menyebut ) hanya ada sekali dalam sehari untuk ke Ibukota propinsi Palangkaraya.
Sungguh tak ada yang istimewa dari kota ini, kecuali hanya penduduk yang mayoritas muslim dan banyaknya masjid dikota kecil ini yang bisa sedikit menghiburku untuk lebih mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Kehidupan ku sedikit berbeda dengan ketika aku bertugas diSampit, kota yang agak rame dimana hari hari ku kuhabiskan dikantor untuk melahap berkas demi berkas yang menumpuk dimeja kerjaku.Sekarang sungguh berbeda yang membuatku agak canggung dengan gaya santai-santai di kantor, apalagi bagian pekerjaan ku tak sesibuk yang lain. Hanya beberapa program APBN yang ku kerjakan.Bersantai santai lama kelamaan sudah menjadi kebiasaanku hingga saat ini, tanpa terasa aku sudah bersantai santai dan bermalas malasan sesuai dengan ritme kantor dimana aku bertugas sekarang. Absensi sehari hari pun tidak terlalu ketat memang dari dulu seperti itu. Memungkinkan aku untuk bisa mengatir waktu kehadiran dikantor, seminggu on seminggu off atau seminggu on dua minggu off, hal ini juga untuk menyiasati biaya hidup dan transportasi untuk pulang pergi dari Palangkaraya ke Kuala Pembuang yang mengharuskan aku untuk pulang seminggu sekali. Uang gaji pasti tidak cukup untuk biaya hidup sebulan seandainya diharuskan setiap hari harus hadir menngingat tingginya ongkos transportasi mingguan dan biaya kost aku disana.
Rupanya kelamaan bermalas malasan juga membuat ku mulai bosan karena tidak ada aktifitas berarti yang aku kerjakan, selain antar jemput istri ke kantor, nonton tv dirumah, beres beres rumah, sekali kali membuka laptop untuk melihat lihat pekerjaan.